Senin, 12 Oktober 2009

PRISMA Vol. 28, No. 2, Oktober 2009, Menuju Indonesia Masa Depan


Nama Majalah: PRISMA
EDISI: VOL.28 Oktober 2009
Tajuk: Menuju Indonesia Masa Depan
Penerbit: LP3ES / Majalah Prisma
Harga: 30.000,-
Distributor: Diandra Primamitra Media – 0274-871159, 088802744623, 081578784085
TOPIK MAJALAH:
1. Pulau-palau Tak Bernama di Nusantara, Penulis. Daniel Dhakidae
2. Menguatnya Kartel Politik Para “Bos”, Penulis. Anotonius Made, Tony Supriatma
3. Budaya Pop Indonesia Kehangatan Seusai prang Dingin, Penulis. Ariel Heryanto
4. Refleksi Kritis Manusia Indonesia, Penulis. Dede Oetomo
5. Menuju Kemandirian Ekonomi Indonesia, Penulis. M. Dawam Raharjo
ESAI:
1. Hubungan Cinta-Benci antara Indonesia dan Malaysia, Penulis. Daniel Dhakidae
DIALOG:
1. Kita Butuh Proyeksi Besar Cita-cita Bangsa, Penulis. Franz Magnis-Susena
SURVEI:
1. Perbankan Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global, Oleh. A. Tony Prasetiantono
LAPORAN DAERAH:
1. Papau dlama Sengketa Separatis, Oleh. Amiruddin Al Rahab
RESENSI BUKU:
1. Membicarkan Indonesia, Oleh. Andi Achdian
- KRITIK & KOMENTAR
- PARA PENULIS

MAJALAH PRISMA DAPAT DIDAPATKAN DI:
1. TOKO BUKU GRAMEDIA
2. TOKO BUKU GUNUNG AGUNG
3. TOKO BUKU TOGA MAS
4. TOKO BUKU SOCIAL AGENCY
5. TOKO BUKU LEKSIKA
6. TOKO BUKU URANUS
7. TOKO BUKU DI KOPMA-KOPMA KAMPUS
8. AGEN KORAN/MAJALAH DLL

Selasa, 21 Juli 2009

MALAJAH Prisma No. 1, Vol. 28, Juni 2009, bertajuk "Senjakala Kapitalisme dan Krisis Demokrasi"


Nama Majalah: PRISMA

EDISI: VOL.28 JUNI 2009

Tajuk: Senjakala Kapitalisme dan Krisis Demokrasi

Penerbit: LP3ES

Harga: 30.000,-

Distributor: Diandra Primamitra Media – 0274-871159, 088802744623, 081578784085
Setelah Satu Dasawarsa
sumber tulisan: majalah.tempointeraktif.com

Majalah Prisma terbit lagi. Menawarkan ruang dialog yang menyuburkan gagasan, dan lebih membuka diri untuk pemikir daerah.

Coba ketik ”majalah prisma” di mesin pencari Google. Langsung muncul informasi, ekonom Faisal Basri tertarik belajar ekonomi setelah membaca Prisma. Ini menunjukkan kuatnya pengaruh majalah keluaran Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) itu di masa jayanya, yaitu pada 1980-an. Dan masih banyak ”Faisal” lain. Sayang, peran itu memudar menyusul terpuruknya Prisma hingga stop terbit pada 1998.

Selama Prisma berhenti, para aktivis LP3ES menyimpan kegelisahan. ”Kami selalu merasa terteror,” kata Pemimpin Redaksi Prisma Daniel Dhakidae, setiap kali ditanya kapan Prisma terbit lagi. Akhirnya, ”teror” itu dijawab di Hotel Santika, Jakarta, 17 Juni lalu. Prisma terbit kembali. Edisi perdananya bertajuk ”Senjakala Kapitalisme & Krisis Demokrasi”. Majalah setebal 120 halaman itu terdiri atas sembilan tulisan dan petikan dialog dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Kembalinya Prisma ini sebenarnya sudah menjadi buah obsesi bertahun-tahun. Salah satunya karena kurangnya ruang debat publik yang mendalam dan melampaui lintas batas. Hingga setahun lalu, proposal final format Prisma baru dirumuskan. Beberapa perguruan tinggi ditawari kerja sama, tapi gagal. Akhirnya terbentuklah konsorsium kecil untuk mengelolanya, dengan modal sepenuhnya dari dalam negeri. ”Dulu Prisma muncul karena tidak ada jurnal, sekarang muncul lagi karena kebanyakan forum debat,” kata Daniel.

Dulu Prisma memang satu-satunya jurnal sosial ekonomi. Saat awal terbit pada November 1971, Prisma menjadi majalah dwibulanan setebal 52 halaman. Setahun kemudian menjadi 92 halaman. Dari terjual sekitar 1.000 eksemplar, lima tahun berlipat menjadi 6.500 eksemplar. Prisma lalu menjadi majalah bulanan.

Pada edisi Agustus 1977, bertajuk ”Manusia dalam Kemelut Sejarah”, Prisma mencatat penjualan terlaris, hingga 25 ribu eksemplar. Di dalamnya ada biografi sejumlah tokoh kontroversial di masa itu, seperti Soekarno dan Tan Malaka. Pada edisi lain, ditampilkan pula tokoh kontroversial seperti C. Simanjuntak, Kartosuwiryo, dan Oerip Soemohardjo.

Prisma juga menerima tulisan dari mantan tahanan politik Pulau Buru, kecuali Pramoedya Ananta Toer karena terlalu frontal. Tapi itu sudah cukup membuat penguasa Orde Baru gerah. Pada 1983, penggiat Prisma, seperti Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, dan Daniel Dhakidae, diinterogasi Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dengan tuduhan menghidupkan kembali komunisme.

Prisma mulai terpuruk pada 1990-an. Terimbas krisis, jadwal terbit tidak teratur dan tiras melorot hingga 400 eksemplar. Edisi November 1998 menutup kehadiran Prisma. Dalam buku kenangan 30 tahun LP3ES, Daniel berkelakar: Orde Baru mati, Prisma mati. Selesai pula tugasnya mengkritik.

Prisma baru punya gaya baru. Selain tetap kritis, Prisma baru menyediakan ruang lebih besar untuk pemikir-pemikir daerah. Terlihat dalam edisi perdana ada laporan soal Aceh yang ditulis M. Rizwan H. Ali dan Nezar Patria—keduanya asli Aceh. ”Harus disadari orang daerah yang tahu persis daerahnya,” kata Daniel.

Mengimbangi gerak zaman, Prisma juga akan tampil online. ”Agar mudah diakses banyak orang,” kata Daniel. Sedangkan periode terbitnya tiga bulan sekali, paling cepat nantinya dua bulan sekali, tak akan mengulang menjadi bulanan. ”Takut mengorbankan kualitas,” kata Daniel.

Tentu saja banyak kalangan menyambut kembalinya Prisma. Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri, misalnya, berharap Prisma bisa menyumbangkan bacaan berkualitas. Deputi Direktur Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi Agus Sudibyo, yang menjadi salah satu penulis edisi ini, berkata senada. ”Prisma sangat dibutuhkan dalam situasi krisis intelektual sekarang,” ujarnya.

Dia mengingatkan, pengelola harus memberikan perhatian serius pada sisi bisnis. ”Di dunia media, membuat produk bagus adalah satu hal, tapi pekerjaan nonproduksi adalah hal lain yang sama penting.” Barang bagus tak laku jual bisa cepat gulung tikar.

Harun Mahbub

sumber tulisan: majalah.tempointeraktif.com

MAJALAH PRISMA DAPAT DIDAPATKAN DI:

1. TOKO BUKU GRAMEDIA

2. TOKO BUKU GUNUNG AGUNG

3. TOKO BUKU TOGA MAS

4. TOKO BUKU SOCIAL AGENCY

5. TOKO BUKU LEKSIKA

6. TOKO BUKU URANUS

7. TOKO BUKU DI KOPMA-KOPMA KAMPUS

8. AGEN KORAN/MAJALAH DLL

Selasa, 14 Juli 2009

DI KERETA, AKU SELINGKUH


JUDUL BUKU: DI KERETA, KITA SELINGKUH
PENULIS : BUDI MARYONO
ISBN: 978-979-15921-0-9
TEBAL: 175 HAL + VII
UKURAN: 13 X 19 CM
KATEGORI: SASTRA-NOVEL
HARGA: 40.000,-
PENERBIT : GIGIH MEDIA
DISTRIBUTOR: CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA
YANG TERLIRBAT

SAAT menulis cerita, saya tampak bekerja sendiri. Padahat, banyak yang terlibat, bahkan jauh sebelum hingga sesudahnya. Maka syukur Alhamdulillah saya panjatkan ke hadirat Allah Maha baik yang memberi saya umur (bukan sekadar usia) dan izin untuk menulis. Tanpa kemurahan-Nya, mustahit cerita-cerita yang terkumput datam buku ini Lahir dan hidup”.

Saya wajib berterimakasih kepada sahabat-sahabat Lekat: Gunawan Budi Susanto yang tak jemu percaya bahwa saya bisa menulis, Heddy Lugito yang menjaga saya hingga tak berteman dengan khomer, Tavif Rudiyanto yang (pernah) meyakinkan bahwa menikah itu enak, Baharudin yang memberikan rumah pertama”, Suyana Sugondo yang pandai menghina, Adi Pamungkas yang dulu menjadi produser pertunjukan saya, Ana Samhuri yang Lugas dan pedas namun menyehatkan, Gembong Swastiargo yang Lucu bisa serius apalagi, Arwani yang senyam-senyum canggung saat tak sependapat, dan Syamsul Hidayat yang slap menjadi soulmate siapa saja.

Terimakasih dan hormat tak tertakar untuk Yudiono KS dan (atmarhumah) Kismarmiati yang “mengantar” saya membeti mahar, Darmanto Jatman yang seLatu ngompori dengan penuh kasih sayang, Agus Matadi Irianto yang tak petit pujian, Bambang Supranoto yang tak pernah tak tertawa bahkan dalam kesedihan, Bambang Sadono SY yang nyambang ke kos-kosan ketika saya mulai serius betajar menulis cerita rekaan, Handry TM yang sengaja tak sengaja membantu saya untuk bertahan di jatur yang benar, Nur Gendut yang menemani tidur di teras dan pasar, Mak Mirah tempat saya “mengadu” saat tidak punya uang untuk makan sejak kuliah hingga masa awal pernikahan, serta begitu banyak orang (perempuan, laki-Laki, waria) yang “inspiratif dan merangsang”.

Sangat tidak tahu diuntung kalau saya tidak berterimakasih kepada para guru Bahasa Indonesia: Pak Salim, Pak Djono, Pak Adnan (SD), Pak Fanani (SMP), dan Pak Rachmat (SMA). Bimbingan, kesabaran, dan dorongan merekatah yang membuat saya mengenal (permainan) kata-kata. Begitupun para redaktur sastra yang menyediakan ruang dan kesempatan.

Terimakasih puta untuk Ismait Marzuki, Koes PLus, GombLoh, Leo Kristi, Emha Ainun Nadjib, Iwan FaLs, Ebiet G. Ade, Titiek Puspa, Rhoma Irama, Eros Djarot, Fariz RM, Litis Suryani, Chrisye, ULLy Sigar Rusadi, Ritta Rubby HartLand, January Christy, Vina Panduwinata, Nicky Astria, SheiLa Madjid, Yuni Shara, Nat King CoLe, BB King, Eric CLipton, Satena Jones, dan JuLio Igtesias. Tanpa mereka tahu, musik, Lagu, syair, dan suara mereka teLah menjadi udara bagi nafas kreativitas saya.

Dan, tentu saja, terimakasih daLam baLutan cinta untuk Entik yang setia mendampingi dan pagi hingga pagi, pagi, dan pagi tagi…

Semoga ALLah melimpahkan pahaLa atas darmatutus mereka.

budi marvono

massakerah@yahoo.com http://siluetbulanluka.blogspot.com

BUKU BISA DI DAPATKAN DI:
1. TOKO BUKU GRAMEDIA
2. TOKO BUKU GUNUNG AGUNG
3. TOKO BUKU TOGA MAS
4. TOKO BUKU UTAMA / BOOK CITY
5. TOKO BUKU LEKSIKA
6. TOKO BUKU BBC
7. TOKO BUKU KURNIA AGUNG
8. TOKO BUKU SOCIAL AGENCY
9. TOKO BUKU ANDI STAR
10. TOKO BUKU URANUS
11. DLL